dr. Sutomo

Adalah salah seorang dari sekian banyak pahlawan nasional yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Ia merupakan tokoh pejuang pergerakan nasional dalam melawan pemerintahan kolonial Belanda.
Sutomo yang terlahir dengan nama Soebroto ini lebih dikenal sebagai Pak Tom lahir pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepah, Nganjuk, Jawa Timur. Ia adalah putra dari Raden Suwaji, seorang bangsawan yang menjabat sebagai wedana di Maospati, Madiun.


A. Masa kecil
Sejak kecil Soebroto diasuh oleh kakek dan neneknya. Kakeknya bernama Raden Ngabehi Singowijoyo. Meskipun banyak dimanja Soebroto tidak pernah rewel dan cengeng, dan juga tidak pernah sombong atau angkuh meskipun ia juga nakal.
Pada usia 8 tahun orang tuanya menitipkan Soebroto kepada pamannya yang bernama Arjodipuro. Di tempat ini Soebroto didaftarkan di sekolah Belanda, yaitu Europeesche Lagere School (ELS). Namun ia tidak diterima. Pamannya tidak pernah berputus asa, hingga keesokan harinya beliau mengajak Soebroto ke sekolah. Dengan menyampaikan keinginannya untuk menyekolahkannya, Soebroto kemudian diterima namun dengan nama Sutomo. Sejak itulah Soebroto berubah nama menjadi Sutomo.
Di sekolah Sutomo termasuk anak pintar sampai sampai ia disegani oleh teman-temannya baik dari Indonesia maupun dari Belanda. Bahkan gurunya yang juga bangsawan Belanda menyayanginya.

B. Masa muda
Setelah menyelesaikan pelajarannya disekolah dasar, Sutomo bermaksud untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah dokter di Jakarta (STOVIA).
Saat menginjak 15 tahun Sutomo bersama dengan 13 temannya mendaftarkan diri di STOVIA. Saat menuntut ilmu di STOVIA, Sutomo mendapat cobaan yang berat. Ia menerima telegram pada 28 Juli 1907 yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal. Kejadian tersebut membawa perubahan dan kesadaran yang sangat besar pada sikap dan pemikirannya di kemudian hari. Setelah keadaan jiwanya matang dan mantap, ia bertemu dengan dr. wahidin Sudirohusodo.

Pertemuannya dengan dr. Wahidin membawa pengaruh yang sangat besar terhadap sikap dan pemikirannya. Pertemuan tersebut telah memantapkan dan meluaskan cita-citanya untuk membela kaum lemah. Tidak hanya itu saja ia juga mendapat pengaruh dari dr. Douwes Dekker yang telah mengeluarkan surat kabar yang berisi tentang penyerangan terhadap Hindia-Belanda yang bertindak sewenang-wenang terhadap kaum pribumi. Sehingga mendorong dan mempercepat timbulnya pergerakan Nasional.
Berkat pengaruh kedua tokoh tersebut, semangat yang tinggi untuk melaksanakan cita-citanya semakin matan dan mantap, yaitu dengan diwujudkannya dengan mendirikan sebuah perkumpulan yang menumbuhkan kesadaran Nasionalisme di kalbu rakyat Indonesia yang diberi nama Budi Utomo yang mengandung arti “ budi yang utama “ dan Sutomo sebagai ketuanya.
Dalam waktu singkat Budi Utomo telah memiliki banyak anggota dan cabang-cabang yang berada di Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Magelang. Budi Utomo juga mengadakan kongres yang pertama pada tanggal 3 Oktober 1908 dan dibuka secara resmi dengan R.A.A.T. Tirtokusumo sebagai ketuanya.
Setelah lulus dari STOVIA, dr. Sutomo mendapat banyak tugas pengabdiannya sebagai dokter. Ia bertugas dibeberapa kota di Jawa maupun luar Jawa, sampai ia diperbantukan di rumah sakit Blora, Jawa Tengah. Rumah sakit Blora merupakan rumah sakit zending. Di rumah sakit inilah ia berkenalan dengan Ny.E. Burning, seorang juru rawat wanita asal Belanda dan menikahinya.
Pada 1919, dr. Sutomo memperoleh kesempatan belajar di Universitas Amsterdam, Belanda. Ia beserta istri pindah kesana.
Selain belajar, kesibukan dr. Sutomo di Belanda bertambah karena ia juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yaitu perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda. Pertemuan dengan tokoh-tokoh PI lainnya seperti Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo, Ali Sastroamijoyo, Sunario, Iwa Kusuma Sumantri, dan Nazir Pamuncak di sana.
Setelah kepulangannya dari Belanda pada tahun 1923 ia bertugas menjadi guru sekolah dokter NIAS di Surabaya. Selain menjadi guru, ia juga menjadi anggota Dewan Kota di Surabaya.
Dalam kedudukannya sebagai guru kehidupan keluarganya semakin membaik dibandingkan di Belanda. Ia bisa menghidupi keluarganya dengan gaji yang lumayan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, sebab pada 17 Februari 1934 nyonya Sutomo meninggal karena sering sakit-sakitan yang disebabkan oleh ketidak-cocokan udara di Surabaya yang panas.
Setelah belajar dengan para pemimpin PI di Belanda menggugah dr.Sutomo untuk merubah pandangan Budi Utomo untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, namun tidak disetujui oleh para anggota dan pengurus Budi Utomo lainnya, sehingga ia mendirikan Indonesische Studieclub (IS)
yaitu perkumpulan yang berjuang untuk membangkitkan semangat kaum terpelajar supaya memiliki keinsyafan dan kewajiban terhadap masyarakat.
Pada 16 Oktober 1930, IS berubah manjadi Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) yang tidak beranggotakan hanya pelajar namun juga terbuka untuk seluruh rakyat bangsa Indonesia. PBI bekerja dengan cara mengadakan pidato-pidato dan kursus politik.
Pada kongres 1953 di Surabaya, disetujui adanya fusi antara Budi Utomo dan PBI. Keputusan ini kemudian ditindaklanjuti dengan adanya penyelenggaraan kongres fusi PBI dan Budi Utomo pada 24-26 Desember 1935 di Solo. Paratai hasil fusi in kemudian diberi nama Partai Indonesia Raya (PARINDRA).

C. Wafatnya dr. Sutomo
Pada Maret 1963, dr. Sutomo mengadakan perjalanan ke luar negeri. Semua negeri yang telah dikunjunginya itu dipelajarinya untuk dijadikan contoh bagi kemajuan Indonesia.
Perjalanan dr. Sutomo ke luar negeri memakan waktu kurang lebih setahun lamanya. Setelah dr. Sutomo sampai di Indonesia kembali, Parindra mengadakan kongres yang pertama di Jakarta pada Mei 1937. Dalam kongres itu dr. Sutomo dipilih kembali menjadi ketua umum Parindra. Bersama pengurus pusat, ia kemudian mengadakan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia untuk kepentingan partai dan kepentingan umum.
Akibat kesibukan dan pekerjaan yang terlampau berat, dr. Sutomo jatuh sakit. Sakitnya semakin lama semakin parah.
Pada 3 Mei 1938, sakit yag diderita dr. Sutomo tidak bisa diobati lagi. Pada hari itu, dr. Sutomo akhirnya meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di halaman Gedung Nasional Surabaya.

D. Oraganisasi-organisasi bentukan dr. Sutomo :
1. Budi Utomo ( 20 Mei 1908 )
2. Indonesische Studieclub ( 11 Juli 1924 )
3. Partai Persatuan Bangsa Indonesia { PBI } ( 16 Oktober 1930 )
4. Partai Indonesia Raya { Parindara } ( 26 Desember 1935 )

By : Scoutboy

BIOGRAFI SOEHARTO

SUHARTO (8 June 1921- 27 January 2008)
Seorang Militer Karir yang Memerintah sebuah Negara

Orang tua Suharto merupakan misteri. Dalam “otobiografi”-nya, yang ditulis oleh orang yang paling bertanggung-jawab atas pembentukan citra publiknya, G. Dwipayana, Suharto mengklaim bahwa ia dilahirkan di kalangan petani miskin di desa Kemusuk di dekat Yogyakarta. Sebuah majalah yang dimiliki oleh bos intelijen militer yang dipercayanya mengklaim pada tahun 1974, bahwa ayahnya seorang ningrat. Dalam sebuah jawaban yang mungkin disiapkan lebih dulu, Suharto mengundang wartawan ke ruang kerjanya di istana kepresidenan untuk menjelaskan garis keturunannya dan mengajukan saksi-saksi yang dapat menguatkan bahwa ia sungguh-sungguh orang yang baik, jujur dan dapat dipercaya. Sekalipun ia menyanggah, garis keturunannya tetap diragukan. Di kalangan orang Indonesia tersebar luas cerita bahwa ia anak tidak sah dari seorang pedagang Cina.

Karir yang menyenangkan
Apa pun asal-mulanya dan pengalaman masa kanak-kanaknya, di masa dewasa ia jelas adalah seorang militer karir. Ia masuk militer Belanda pada tahun 1940, yang merupakan peristiwa yang dalam “otobiografi”-nya dikatakannya sebagai “kunci yang membuka pintu kepada sebuah kehidupan yang menyenangkan”. Kehidupan menyenangkan yang terdiri dari baris-berbaris dan latihan itu berlanjut pada masa pendudukan Jepang, ketika ia menjadi anggota milisi Peta. Seperti anggota milisi lain, ia bergabung dengan tentara nasional Indonesia yang baru dibentuk begitu militer Jepang menyerah pada Agustus 1945. Tidak dimungkinkan lagi untuk kembali mengabdi pada Belanda, karena Belanda telah dilucuti kekuasaan dan kekayaannya oleh Jepang dan menjalani tahun-tahun perang di dalam kamp-kamp konsentrasi yang kotor dan tidak nyaman.
Berkat latihan militer yang pernah diikutinya, Suharto diberi pangkat tinggi (letnan kolonel) dalam tentara Indonesia yang baru itu, yang dibentuk untuk melakukan perang gerilya melawan tentara Belanda yang datang kembali. Pada tahun 1948 ia telah menjadi komandan sebuah brigade pasukan yang ditempatkan di dalam dan di sekitar Yogyakarta, ibukota Republik. Serangan-serangan gerilya tentara itu tidak banyak bermanfaat dalam menghambat kemajuan pasukan Belanda.
Sekalipun lebih menguasai medan di kandang sendiri, Suharto dikejutkan pada 19 Desember 1948 ketika pasukan Belanda menyerbu Yogyakarta dan menguasainya pada hari yang sama tanpa menghadapi perlawanan sedikit pun. Entah bagaimana, keempat batalyon Suharto sedang berada di luar kota. Itu merupakan kemunduran terburuk bagi Republik: kedua orang pimpinan tertingginya, Sukarno dan Hatta, tertawan.
“Politik saya terletak di ujung bayonet.”
Suharto mendapat kesempatan untuk memperbaiki diri ketika ia memimpin sebuah serangan terhadap kota Yogyakarta pada 1 Maret 1949. Serangan itu hanya menimbulkan kerusakan kecil di kalangan pasukan Belanda yang menduduki kota itu dan dipukul mundur dalam waktu enam jam. Namun, Suharto dan para komandan militer lain mengklaim bahwa mereka telah menguasai kota untuk sementara waktu dan membuktikan kehebatan angkatan bersenjata Republik kepada dunia. Setelah Suharto berkuasa pada tahun 1965, peristiwa itu disulap menjadi kemenangan yang menentukan dalam perang kemerdekaan, dan dibuatlah film tentang peristiwa itu, “Janur Kuning” (1979), dan di kota Yogya didirikan sebuah monumen besar untuk mengenangnya (1985).
Sebagai orang yang pernah bekerja dalam tiga tentara yang berbeda dalam kurun waktu satu dasawarsa, Suharto mempunyai komitmen politik yang enteng. Salah satu kolega militernya belakangan berkata pada seorang wartawan, bahwa pada tahun 1948 Suharto pernah berkata, “Politik saya terletak di ujung bayonet.” Tidak heran bahwa Sukarno dan menteri pertahanannya yang berhaluan kiri memasukkan komisaris politik di dalam tentara. Seperti banyak tentara yang dilatih di bawah perwira Belanda dan Jepang, Suharto tidak punya pengalaman didalam gerakan nasionalis populer yang telah berjuang melawan imperialisme.
Menapak jenjang kepangkatan
Setelah kemerdekaan tercapai dalam tahun 1949, Suharto menanjak pangkatnya: kolonel, brigadir jenderal, mayor jenderal. Ia pernah mengalami kemunduran pada tahun 1959, ketika ia diberhentikan sebagai komandan tentara di Jawa Tengah karena korupsi. Tetapi peristiwa itu ditutupi dan ia direhabilitasi dengan cepat. Ia ditugasi memimpin operasi merebut Irian Barat dari Belanda pada tahun 1962 – operasi itu dihentikan pada saat terakhir dengan tercapainya kesepakatan diplomatik. Ia lalu dipindahkan ke Jakarta dan diberi jabatan sebagai komandan cadangan angkatan darat, Kostrad, pada tahun 1963. Dengan catatan karir yang tidak menonjol, pendidikan yang rendah, dan tidak menguasai bahasa asing, pada tahun 1965 ia menjadi calon utama untuk menduduki jabatan tertinggi di angkatan darat, dan bertindak menggantikan panglima angkatan darat, Yani, bila ia pergi keluar negeri.
Suharto naik ke puncak militer yang kemudian menjadi semacam negara di dalam negara, memiliki komandan teritorial, yang pada mulanya didesain untuk pertahanan terhadap invasi asing, tetapi kemudian memerintah masyarakat sipil.
Kebanyakan dari jenderal-jenderal lain, termasuk yang paling senior, A.H. Nasution, sangat anti-komunis dan bertekad menahan kekuatan PKI yang tengah meningkat pada awal 1960an. Untuk menandingi partai itu, mereka pun membentuk serikat buruh, perhimpunan seniman, dan surat kabar. Mereka berhubungan dengan organisasi-organisasi keagamaan dan partai-partai politik, dan meyakinkan mereka bahwa bila perlu militer akan menggunakan kekerasan terhadap PKI.
Suharto tidak secara jelas memihak pada salah satu pihak. Seorang mantan anggota PKI di parlemen mengatakan kepada saya, bahwa DN Aidit, ketua PKI, pada awal 1965 mengira bahwa Suharto seorang perwira yang “demokratis” oleh karena ia mendukung pengakhiran SOB (keadaan perang) pada tahun 1963. Tetapi Suharto juga berhubungan dengan golongan anti-komunis dalam usaha tertutupnya untuk mengerem kampanye anti-Malaysia Sukarno yang dimulai pada tahun 1963.
Hari yang beruntung baginya
Duduk di pinggiran ternyata membawa Suharto pada puncak kekuasaan. Ketika para perwira militer yang pro-PKI dan pro-Sukarno memutuskan bertindak terhadap para perwira saingan mereka, mereka beranggapan Suharto akan mendukung mereka. Sekelompok perwira junior mengorganisir penculikan tujuh jenderal angkatan darat pada 1 Oktober 1965. Dua di antara komplotan itu adalah sahabat dekat Suharto, dan seorang di antaranya menceritakan kepada Suharto rencana komplotan itu sebelum terjadi. Para penculik, yang menamakan diri Gerakan 30 September, akhirnya membunuh enam jenderal, termasuk di antaranya panglima angkatan darat, Yani. Itu adalah hari yang menguntungkan bagi Suharto. Dengan absennya Yani, ia menjadi panglima angkatan darat. Gerakan 30 September tidak diotaki oleh Suharto tetapi peristiwa itu justru memberi kesempatan baginya untuk mencapai cita-citanya.
Sebagai komandan militer, Suharto mulai menentang perintah-perintah presiden dan menerapkan agenda yang sejak lama dimiliki oleh para perwira anti-komunis, yakni mengurangi pengaruh Sukarno sehingga menjadi presiden tanpa kekuasaan, menghancurkan PKI, dan menegakkan kediktatoran militer. Sikap anti-komunis Suharto bukan berasal dari komitmen ideologis yang mendalam.
Seandainya Gerakan 30 September berhasil dan kaum komunis meraih kekuasaan lebih besar, kita bisa dengan mudah membayangkan bagaimana Suharto yang selalu oportunistik itu menyesuaikan diri dengan rejim yang baru. Ia adalah perwira yang biasa dan sama sekali tidak menonjol, sehingga pada minggu-minggu pertama Oktober itu banyak pengamat mengira bahwa ia sekadar mengikuti pimpinan Nasution.
Kudeta merangkak
Menyingkirkan Presiden Sukarno ternyata tidak terlalu sulit. Tokoh besar nasionalisme Indonesia, “penyambung lidah rakyat”, terus-menerus memprotes, tetapi tidak berbuat sesuatu untuk menyetop meriam Suharto. Ia menguatkan Suharto sebagai panglima angkatan darat, menaikkan pangkatnya, dan memberinya kekuasaan darurat. Puncak dari kudeta merangkak terjadi pada Maret 1966, ketika Suharto menggunakan perintah yang kata-katanya samar tentang “menjamin keamanan” dari Sukarno sebagai justifikasi untuk menangkap 15 menteri dan membubarkan kabinet Sukarno–seolah-olah presiden memerintahkan penggulingan dirinya sendiri.
Penghancuran PKI–prakondisi untuk menerapkan suatu kebijakan politik baru yang didominasi militer–ternyata juga tidak terlalu sulit. Pimpinan PKI, yang kalang kabut setelah 1 Oktober, menyerukan kepada para anggotanya untuk tidak melawan supaya Presiden Sukarno dapat mengatur suatu pemecahan politis terhadap krisis itu. Tetapi presiden tidak berkuasa atas tentara Suharto. Bekerja sama dengan milisi sipil, tentara mengorganisir sebuah pertumpahan darah yang paling buruk dari abad ke-20, menangkap lebih dari sejuta orang, lalu dengan diam-diam membunuh banyak di antara mereka. Tahanan-tahanan lenyap di waktu malam. Kuburan-kuburan massal terisi mayat-mayat yang tak terhitung banyaknya tersebar tanpa tanda di seluruh Sumatra, Jawa dan Bali.
Tidak ada dokumen yang membuktikan bahwa Suharto memerintahkan satu pembunuhan pun. Dalam beberapa kesempatan yang jarang, ketika ia berbicara tentang pembunuhan-pembunuhan itu pada tahun-tahun belakangan, ia menyalahkan orang-orang sipil yang mengamuk. Penyelidikan yang saksama terhadap siapa, di mana, kapan dan bagaimana berkaitan dengan pembunuhan-pembunuhan itu mengungkapkan bahwa militerlah yang paling bertanggung-jawab dan bahwa Suharto setidak-tidaknya menyetujuinya, kalau bukan ia yang memberikan perintah lisan atau tertulis yang eksplisit untuk melakukannya.
‘Program Ponzi’(*) raksasa itu pun ambruk
Dalam menilai pemerintahan Suharto, apa yang disebut pendekatan “seimbang” dari banyak sarjana Barat adalah mengkritisi Suharto tentang pelanggaran-pelanggaran HAM-nya, tetapi memuji kinerja ekonomisnya. Mereka yang terkesan oleh pertumbuhan enam persen setahun tidak berbeda dengan para investor yang mudah dikibuli dalam suatu ‘Program Ponzi’(*) raksasa, yang yakin bahwa penghasilan tinggi yang terlihat di permukaan merupakan bukti tak terbantahkan dari sebuah sukses. Pertumbuhan ekonomi pada tahun-tahun Suharto sebagian besar dihasilkan dengan menjual secara liar sumberdaya-sumberdaya alam negeri itu. Itu adalah pertumbuhan yang memakan dirinya sendiri, dan yang tak mungkin akan lestari.
Sektor-sektor utama adalah minyak dan kayu. Keduanya mengalami salah urus yang hebat karena korupsi. Pada hari ini Indonesia secara bersih adalah negara pengimpor minyak dan hutan-hutannya menghilang dengan cepat, dibabat oleh para logger atau dibakar oleh pemilik perkebunan kelapa sawit. Pendapatan dari semua ekspor itu tidak diinvestasikan kembali ke dalam sektor-sektor lain; uang itu lenyap masuk rekening bank dari keluarga Suharto & para kroninya (seperti Bob Hasan), dan para pejabat pemerintah.
—————
‘Program Ponzi’ : suatu operasi investasi palsu & kriminal, yang di situ para penanam modal awal mendapat hasil (“laba”) yang sangat besar yang dibayar dari investasi oleh para penanam modal yang datang belakangan, dan bukan dari hasil bersih yang berasal dari kegiatan bisnis yang benar.
—————
Setelah tiga dasawarsa pertumbuhan ekonomi a la Suharto, pemerintah Indonesia dibebani hutang banyak, dan perekonomian Indonesia tidak memiliki basis industri yang didanai dari dalam negeri. Sungguh pas kalau Suharto, yang pengikut-pengikutnya memujinya sebagai “Bapak Pembangunan”, meninggal dunia di rumah sakit yang dimiliki oleh perusahaan minyak negara (Pertamina) yang oleh keluarganya dan kroninya (seperti Ibnu Sutowo) diperas habis-habisan.
Rejim Suharto hidup dari modal asing dan mati karena modal asing. Liberalisasi sektor keuangan yang didesakkan oleh A.S. kepada Indonesia supaya dianut pada awal 1990an berakibat kerentanan yang lebih besar terhadap perubahan mendadak dalam aliran modal internasional. Uang mengalir masuk ke dalam gerombolan kleptokrat Suharto dan bank-banknya yang palsu, lalu tiba-tiba mengalir keluar lagi. ‘Program Ponzi’ raksasa itu pun runtuh dengan terjadinya krisis ekonomi Asia pada tahun 1997. Satu-satunya legitimasi yang dimiliki oleh Suharto adalah apa yang seolah-olah tampak merupakan kemampuannya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomis. Begitu itu berakhir, maka kelas menengah yang biasanya menurut saja membalik terhadapnya, tidak mau mentolerir korupsinya, anak-anaknya yang serakah dan kroni-kroninya yang sangat immoral mencolok kekayaannya. Gerakan yang secara spontan terbentuk bagi “reformasi” ini menyatakan musuh utama mereka adalah KKN: Korupsi, Kolusi & Nepotisme. Kampanye keluarga Suharto sendiri, “Saya Cinta Rupiah”, yang datang dari mereka yang justru punya dollar paling banyak, tidak mempunyai bobot yang sama dengan slogan gerakan itu.
Segudang paranormal yang dimiliki keluarga itu tidak bisa menyelamatkan mereka; tidak pula jenderal-jenderal penjilat mereka, bahkan tidak Letnan Jenderal Prabowo, menantu Suharto yang menguasai pasukan elite di Jakarta, dan yang selalu bergelimang uang dari saudaranya yang memiliki satu-satunya pabrik baja di negeri itu. Suharto lengser pada 21 Mei 1998, ketika Jakarta masih mengepulkan asap bekas kerusuhan misterius, yang di situ toko-toko yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia keturunan Cina dibakar.
Mr. Minus
Mungkin yang terbaik dapat dikatakan tentang 32 tahun pemerintahan Suharto ialah bahwa salah-salah keadaannya bisa lebih buruk dari sekarang. Ia tidak memilih strategi jenderal-jenderal Burma dan mengisolasi negeri ini. Bergantung pada modal asing, ia rentan terhadap tekanan internasional. Pelepasan puluhan ribu tahanan politik pada akhir 1970an sebagian besar disebabkan oleh tekanan dari luar negeri. Ia tidak memilih untuk mencari legitimasi dirinya melalui agama dan menerapkan hukum Islam. Negara Indonesia sebagian besar tetap sekuler. Ia tidak memupuk kultus pribadi di seputar dirinya. Ketika menghadapi protes massal pada tahun 1998, ia tidak memilih mempertahankan kekuasaan dengan segala cara.
Almarhum sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang menjadi tahanan politik Suharto selama 14 tahun, pernah menulis bahwa ia tidak bisa memaksa dirinya menulis tentang rejim Suharto. Sementara ia menulis banyak novel historis tentang Jawa di zaman pra-kolonial dan gerakan nasionalis Indonesia, ia berpendapat tidak ada apa-apa yang menarik untuk ditulis tentang orang yang bertanggung jawab memenjarakannya dan melarang buku-bukunya itu. Baginya, Suharto adalah suatu negativitas, apa yang dinamakannya suatu “minus X”, suatu kemunduran kembali ke zaman para aristokrat kolonial, yang menindas bawahan mereka bagi kepentingan bisnis Eropa, namun membusungkan dada memamerkan kekuatan kosmik mereka yang hebat, dan tetap berpandangan sempit dan tidak peduli terhadap sains dan seni dari Eropa yang telah menaklukkan mereka. Tidak diragukan bahwa beberapa orang akan mengingat Suharto bagi beberapa hal yang positif, tetapi sementara Indonesia berjuang mengatasi warisannya yang buruk, kita bertanya-tanya, apakah orang bisa menilai gelarnya sebagai “Bapak Pembangunan” itu sebagai sesuatu yang sahih selain sebagai sebuah guyonan yang
kejam.***

Oleh: John Roosa

SUSUNAN SAKA






Warna dan Arti Warna

Dalam Lingkungan Gerakan Pramuka kita mengenal beberapa warna termasuk arti warnanya. Warna yang memiliki arti kiasan sangat membantu dalam menciptakan sebuah gambar agar lebih bermakna dan memberikan motivasi bagi penggunanya.

Berikut ini beberapa jenis warna dan arti warna di dalamnya :


Merah


a. keberanian

b. dinamika

c. wanita

d. surya (matahari)

e. kasih sayang





Putih


a. kemurnian

b. kebersihan

c. kesucian

d. kewajiban

e. prasahajaan

f. pria

g. Candera (bulan)





Kuning


a. kejayaan

b. kebesaran

c. keemasan





Hijau


a. keagungan

b. kesejahteraan

c. kebijaksanaan

d. kecerdasan




Biru


a. daratan

b. kemakmuran

c. keta’atan

d. taqwa




Biru tua


a. laut

b. kesetiaan

c. ketekunan

d. ketabahan




Hitam


a. kedalaman

b. kesungguh-sungguhan


Sumber :

Lampiran I Kepres RI No. 448 tahun 1961

Rantai Nama

Tujuan
Permainan ini dimaksudkan bagi kelompok yang belum saling kenal nama masing-masing, agar lebih akrab, serta memberi pengalaman tampil di depan forum.



Langkah-langkah :
a. Peserta bersama pemandu berdiri di dalam lingkaran
b. Pemandu menjelaskan aturan permainan sebagai berikut :
Salah seorang menyebutkan namanya dengan suara keras agar terdengar oleh setiap peserta, kemudian peserta yang berdiri di sebelahnya (kiri atau kanan) menyebutkan nama peserta pertama tadi ditambah dengan namanya sendiri. Peserta ketiga menyebutkan nama peserta pertama dan kedua ditambah dengan namanya sendiri, begitu seterusnya sampai selesai.
c. Proses ini diulangi lagi dengan arah berlawanan, dimulai dari peserta yang terakhir menyebutkan rantai nama tersebut.
Variasi
Buat lingkaran, setiap peserta secara bergiliran menyebutkan nama panggilan, umur, tempat asal, pekerjaan, lalu peserta yang lain menirukan, begitu seterusnya sampai selesai satu putaran.
Putaran kedua, semua peserta mengulangi lagi secara bersama-sama data pribadi tersebut, dengan urutan seperti semula.

Postingan Lama